muhammadiyahkukar.org

Senin, 6 April 2026
TRANDING

muhammadiyahkukar.org – Kukar, Pengajian Bulanan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kutai Kartanegara di Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Loa Kulu pada Minggu (5/4), menjadi momentum strategis dalam memperkuat pemahaman keislaman berkemajuan di tengah masyarakat. Mengangkat tema “Memaknai Idul Fitri dalam Perspektif Tajdid”, kegiatan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menghadirkan refleksi mendalam tentang makna spiritual dan sosial Idul Fitri dalam kerangka gerakan pembaruan Islam.

Siswanto Sunandar Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Timur (PWM Kaltim) dalam sambutannya menegaskan bahwa Idul Fitri harus dimaknai sebagai titik awal perubahan yang berkelanjutan. Ia menekankan bahwa tajdid tidak berhenti pada pemurnian ajaran, tetapi juga mencakup pembaruan cara berpikir dan bertindak umat Islam agar lebih adaptif dan solutif terhadap dinamika zaman. Penegasan ini memperlihatkan bahwa Muhammadiyah konsisten menempatkan Idul Fitri sebagai momentum transformasi diri dan sosial.

Senada dengan itu, Yamin Hadi F. Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kutai Kartanegara (PDM Kukar) menyoroti pentingnya evaluasi diri pasca-Ramadhan. Ia menyampaikan bahwa nilai-nilai Idul Fitri harus tercermin dalam peningkatan kualitas ibadah dan kepedulian sosial. Dalam perspektif tajdid, menurutnya, umat dituntut untuk menghadirkan Islam yang berkemajuan, yakni Islam yang mampu menjawab tantangan modernitas tanpa kehilangan pijakan pada Al-Qur’an dan Sunnah.

Sementara itu, Suprianto Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Loa Kulu (PCM Loa Kulu) melihat pengajian ini sebagai instrumen penting dalam penguatan ideologi gerakan di tingkat akar rumput. Ia mengapresiasi partisipasi jamaah yang tinggi dan menekankan perlunya konsistensi dalam mengamalkan nilai-nilai Ramadhan, khususnya dalam menjaga semangat berbagi dan kepedulian terhadap sesama.

Pengajian ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah terus memainkan peran strategis sebagai gerakan dakwah dan tajdid. Tema yang diangkat tidak hanya relevan secara teologis, tetapi juga kontekstual dalam menjawab kebutuhan umat saat ini. Idul Fitri, dalam perspektif tajdid, dipahami bukan sekadar perayaan kemenangan, melainkan momentum pembaruan menyeluruh yang mencakup dimensi spiritual, intelektual, dan sosial.

Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya memperkuat pemahaman keagamaan warga persyarikatan, tetapi juga menegaskan komitmen Muhammadiyah dalam mendorong terwujudnya masyarakat Islam yang berkemajuan, berlandaskan nilai-nilai keislaman yang autentik dan responsif terhadap perkembangan zaman. (D_One)


Aplikasi MASA Muhammadiyah