Di tengah dinamika zaman yang terus berubah, umat tidak hanya membutuhkan arah, tetapi juga pendampingan yang nyata. Inilah yang menjadi ruh utama dalam buku saya yang berjudul “Muhammadiyah Membersamai Ummat”. Buku ini lahir dari kegelisahan sekaligus harapan bahwa gerakan dakwah tidak cukup hanya hadir secara struktural, tetapi juga harus hidup dan dirasakan secara kultural di tengah masyarakat.
Muhammadiyah sejak awal berdirinya bukan sekadar organisasi, melainkan gerakan pencerahan. Namun, dalam perjalanan panjangnya, tantangan yang dihadapi umat semakin kompleks. Perubahan sosial, perkembangan teknologi, hingga krisis nilai di tengah masyarakat menuntut pendekatan dakwah yang lebih adaptif, inklusif, dan solutif.
Melalui buku ini, saya ingin menegaskan bahwa “membersamai umat” bukan hanya slogan, tetapi sebuah paradigma gerakan. Muhammadiyah harus hadir di tengah kehidupan masyarakat, menyentuh persoalan riil yang mereka hadapi baik dalam bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, maupun kehidupan sosial-keagamaan. Pendampingan ini bukan bersifat top-down, melainkan dialogis dan partisipatif, di mana umat menjadi subjek, bukan objek.
Namun demikian, dalam refleksi kritis yang saya tuangkan dalam buku ini, terdapat satu hal mendasar yang perlu menjadi perhatian serius, yaitu mulai memudarnya ruh implementasi nilai-nilai Surah Al-Ma’un dalam praksis pendidikan Muhammadiyah. Surah ini sejatinya menjadi spirit teologis gerakan, yang menekankan keberpihakan kepada kaum lemah, anak yatim, dan mereka yang termarginalkan.
Dalam realitasnya, tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian lembaga pendidikan Muhammadiyah mulai terjebak dalam orientasi formalitas dan administratif semata. Pendidikan berjalan secara sistematis, namun belum sepenuhnya menyentuh dimensi empati sosial dan keberpihakan kepada kaum dhuafa sebagaimana pesan utama Al-Ma’un. Sekolah dan kampus terkadang lebih fokus pada capaian akademik dan reputasi institusi, tetapi kurang memberi ruang yang cukup bagi internalisasi nilai-nilai kepedulian sosial secara nyata.
Kritik ini bukan untuk melemahkan, melainkan sebagai bentuk cinta dan tanggung jawab moral terhadap gerakan ini. Jika Muhammadiyah ingin tetap relevan dan menjadi solusi bagi umat, maka ruh Al-Ma’un harus kembali dihidupkan, tidak hanya dalam retorika, tetapi dalam praktik pendidikan sehari-hari. Peserta didik tidak cukup hanya menjadi cerdas secara intelektual, tetapi juga harus memiliki kepekaan sosial yang tinggi.
Lebih jauh, buku ini juga mengajak kita untuk merefleksikan kembali peran strategis Muhammadiyah dalam membangun peradaban. Amal usaha yang selama ini menjadi kekuatan utama harus terus diperkuat, namun tidak boleh kehilangan ruh keberpihakan kepada umat. Sekolah, kampus, rumah sakit, dan berbagai lembaga sosial harus benar-benar menjadi ruang pelayanan yang humanis dan berkeadaban.
Dalam konteks kekinian, “membersamai umat” juga berarti mampu menjawab tantangan generasi baru. Generasi muda membutuhkan pendekatan yang berbeda lebih terbuka, kreatif, dan relevan dengan dunia mereka. Muhammadiyah dituntut untuk tidak hanya menjadi penjaga tradisi, tetapi juga pelopor inovasi dalam dakwah dan pendidikan.
Buku ini pada akhirnya bukan hanya refleksi pribadi, tetapi juga ajakan kolektif. Ajakan kepada seluruh kader dan simpatisan Muhammadiyah untuk kembali menguatkan komitmen: hadir, mendengar, dan bergerak bersama umat. Termasuk berani melakukan evaluasi kritis terhadap diri sendiri, agar gerakan ini tidak kehilangan arah dan substansinya.
Di tengah arus globalisasi yang kerap menggerus nilai-nilai kemanusiaan, Muhammadiyah memiliki peran penting sebagai penjaga sekaligus penggerak peradaban. Membersamai umat adalah jalan panjang, tetapi di situlah makna sejati dari dakwah yang mencerahkan.
Melalui buku ini, saya berharap lahir kesadaran baru bahwa Muhammadiyah bukan hanya milik struktur organisasi, melainkan milik umat. Dan selama Muhammadiyah tetap membersamai umat dengan menghidupkan kembali spirit Al-Ma’un dalam setiap denyut gerak pendidikannya selama itu pula ia akan tetap relevan dan dibutuhkan.
Oleh: Muhammad Ridwan